Selamat Datang di situs materi perkuliahan yang diampu oleh Rizki, S.Si., M.P email: khi_bio@yahoo.com Web: http://www.rizkibio.com

Welcome on Rizkibio Web Learning


Bismillahirrahmaanirrahiim

Selamat datang di Web bimbingan Rizki, S.Si., M.P., Lecturer Program Studi Pendidikan Biologi. Web ini di buat dengan tujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam mendapatkan dan memahami konsep-konsep tentang mata kuliah yang dibimbing oleh penulis. Mereka tetap dapat mengakses materi tentang perkuliahan dimanapun mereka berada melalui smartphone, netbook, laptop, atau komputer yang terhubung dengan internet. Web ini juga dapat membantu mahasiswa dalam melakukan praktikum karena dalam web ini juga disediakan foto-foto objek atau gambar bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam praktikum (dalam pengembangan).
Semoga bermanfaat dan Selamat Belajar...........

Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.[1] Belajar adalah berubah. Belajar berarti usaha mengubah tingkah laku yang akan membawa perubahan pada individu-individu yang belajar.[2] Belajar yang seringkali diartikan sebagai penambahan pengetahuan, tetapi yang lebih penting terdapat perubahan tingkah laku baik yang menyangkut pengetahuan (kognitif),
keterampilan (psikomotor), dan perubahan yang menyangkut nilai atau sikap (afektif) sehingga siswa memiliki kecakapan hidup dalam dirinya untuk dapat terjun di masyarakat. Jadi belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dialami seseorang secara terus-menerus untuk menuju tingkah laku atau kemampuan yang diharapkan.
Ada beberapa teori yang berpendapat bahwa proses belajar pada pinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, yakni penataan fakta, konsep serta prinsip-prinsip, sehingga membentuk satu kesatuan yang memiliki makna bagi subjek didik. Teori semacam ini dapat diterima dengan alasan bahwa dari struktur kognitif dapat mempengaruhi afksi ataupun penampilan seseorang.[3] Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.
Dalam konteks menjadi tahu atau proses memperoleh pengetahuan, menurut pemahaman sains konvensional kontak manusia dengan alam diistilahkan dengan pengalaman (eksperience), dimana pengalaman yang dapat terjadi berulang kali itu akan melahirkan pengetahuan (knowledge).[4]
Pengetahuan
yang diperoleh peserta didik dari pengalaman-pengalaman yang telah dilalui  diharapkan dapat memperbaiki perilaku peserta didik dalam memperkuat kepribadiannya ke arah yang lebih baik lagi. Karena dengan pengetahuan ini peserta didik dapat belajar banyak hal untuk menambah pengetahuannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang dialami oleh peserta didik melalui pengalaman yang terus-menerus untuk mendapatkan tingkah laku yang positif sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, cara berfikir, dan nilai-nilai yang baik dalam kehidupannya.
Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan cara melibatkan faktor internal dan faktor eksternal yang ikut serta dalam mempengaruhi ketercapaian hasil belajar.[5] Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri siswa itu sendiri yang meliputi faktor psikologi dan fisik tersebut, sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan belajar yang meliputi suasana, budaya belajar, tempat belajar dan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Dalam hal pembelajaran diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Pada pembelajaran guru mengajar diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran. guru menyediakan fasilitas pembelajaran bagi peserta didik untuk mempelajarinya.[6] Faktor psikologi memiliki andil yang cukup penting dalam proses pembelajaran. faktor psikologis senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Sebaliknya faktor psikologis juga bisa memperlambat proses belajar dan bahkan dapat menambah kesulitan dalam pembelajaran. menurut Thomas F. Staton ada enam macam faktor psikologis, yaitu:
a.   Motivasi
               Seseorang akan berhasil dalam pembelajaran kalau dirinya sendiri memiliki keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut dengan motivasi. Tanpa motivasi kegiatan dalam pembelajaran akan sulit berhasil. Persoalan motivasi akan bergantung pada unsur pengalaman dan Interest. Dalam kegiatan pembelajaran motivasi dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjaminkelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arahan pada kegiatan pembelajaran sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
               Kemudian dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, yang penting bagaimana menciptakan kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa ke aktivitas pembelajaran. Bagaimana guru melakukan usaha-usaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi motivasi agar anak didiknya melakukan aktivitas belajar dengan baik. Untuk hasil belajar yang baik diperlukan motivasi yang baik pula. Motivasi yang tidak baik menimbulkan kegiatan pembelajran yang tidak efektif dan hasil yang tidak maksimal.[7]
               Guru dapat menggunakan berbagai cara untuk menggerakkan atau membangkitkan motivasi belajar siswanya, adalah sebagai berikut:
1)       Memberi angka
Setiap siswa ingin mengetahui hasil pekerjaanya dalam bentuk angka yang diberikan oleh guru. Siswa yang mendapatkan angka yang baik, akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar, sebaliknya siswa yang mendapatkan angka kurang mungkin menimbulkan frustasi atau bisa menjadi pendorong agar belajar lebih baik lagi untuk kedepannya.[8] Memberikan angka memang menimbulkan motivasi atau dorongan pada diri siswa, akan tetapi banyak siswa yang belajar hanya ingin mengejar angka atau nilai tersebut. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot baik. Hal yang harus diingat oleh guru bahwa pencapaian angka-angka seperti itu bukan hasil belajar yang sejati. Pemberian angka dikaitkan dengan angka-angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak hanya sekedar kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.[9]
2)       Pujian
Pemberian pujian atas hal yang telah dilakukan dengan baik yang menimbulkan perasaan senang dan rasa puas.[10] Pujian ini adalah bentu Reinforcement yang positif dan motivasi yang baik.
3)       Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi tetapi tidak selalu demikian. Pemberian hadiah dapat dilakukan pada akhir tahun pelajaran kepada siswa yang mendapatkan hasil belajar baik. Sehungga akan menimbulkan dorongan dalam diri siswa untuk selalu menjadi yang terbaik.
4)       Persaingan
Persaingan atau kompetisi dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan individu ataupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
5)       Kerja kelompok
Dalam kerja kelompok siswa mengerjakan pekerjaan bersama-sama, kadang perasaan ingin mempertahankan nama baik kelompok dapat menjadi pendorong yang kuat dalam proses pembelajaran.
6)       Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga dirinya, sebagai salah satu motivasi terbesar seseorang akan berusaha untuk mecapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.[11]
7)       Memberi ulangan
Para siswa akan menjadi giat dalam pembelajaran kalau mengetahui akan ada ulangan. Ulangan meruakan sarana motivasi, tetapi jangan terlalu sering karena akan menyebakan siswa menjadi bosan.
8)       Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil dari pekerjaannya, apalagi kalau ada kemajuan akan mendorong ssiwa untuk lebih giat belajar. Mengetahui grafik hasil belajar meningkat maka motivasi belajar akan terus meningkat pula.
9)       Hukuman
Hukuman yang negatif kalau diberikan secara bijak dan tepat bisa menjadi alat motivasi. Yang terpenting pahami prinsip-prinsip pemberian hukuamn.
10)    Film pendidikan
Setiap siswa merasa senang menonton film. Tampilkan film yang lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar. Pendidik dipersilahkan untuk mengeksplorasi semaksimal mungkin agar peserta didik termotivasi dalam pembelajaran.[12] cara yang dilakukan oleh pendidik di dalam kelas tidak harus kaku, tetapi sebaliknya dilakukan dengan fleksibel sehingga menyenangkan baik bagi peserta didik maupun bagi pendidik yang bersangkutan.

b.    Konsentrasi
               Konsentrasi merupakan memusatkan segenap kekuatan dan perhatian siswa pada situasi belajar. Unsur motivasi membantu tumbuhnya proses pemusatan perhatian. Didalam konsentrasi ini keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan sehingga tidak terjadi perhatian sekedarnya dalam proses pembelajaran.Siswa  yang tidak konsentrasi dalam pembelajaran maka akan menimbulkan materi yang diajarkan oleh pendidik samar-samar dalam kesadarannya.konsentrasi sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran peserta didik.[13]
c.    Reaksi
          Dalam kegiatan pemeblajaran diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental, sebagai wujud suatu reaksi. Pikiran dan otot harus bekerja secara harmonis. Belajar itu harus aktif bukan sekedar apa adanya, membutuhkan reaksi yang melibatkan ketangkasan mental, kewaspadaan, perhitungan, ketekunan dan kecermatan untuk menangkap fakta-fakta dan ide-ide yang disampaikan oleh pengajar.
d.   Organisasi
          Belajar dikatakan sebagai kegiatan mengorganisasikan, menata dan menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran kedalam suatu pengertian. Dalam pembelajaran dibutuhkan keterampilan mental untuk mengorganisasikan stimulus, sehingga diperlukan perumusan tujuan yang jelas dalam belajar.
e.    Pemahaman
          Pemahaman merupakan menguasai sesuatu dengan pikiran. Belajar itu harus mengerti secara mental makna dan filosifinya, sehingga siswa dapat memahami suatu situasi. Pemahaman disini tidak hanya sekedar tahu tapi juga menghendaki agar subjek belajar dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipahami.

f.     Ulangan
          Lupa merupakan sesuatu yang tercela dalam pembelajaran, tetapi lupa merupakan sifat umum manusia. Sehubungan dengan kenyataan itu untuk mengatasi kelupaan diperlukan kegiatan “ulangan”. Mengulang-ulang suatu fakta atau pekerjaan yang sudah dipelajari membuat kemampuan siswa untuk mengingatnya akan semakin bertambah. Mengulang pembelajaran kembali membuat kemungkinan untuk mengingat bahan pelajaran semakin besar.[14]


[1] Oemar hamalik, Proses Belajar Mengajar, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2001) Hal. 27
[2] Sardiman, Interaksi &MotivasiBelajarMengaja.... Hal. 21
[3] Sardiman, Interaksi &MotivasiBelajarMengaja.... Hal. 21
[4] Suyono dan hariyanto, Belajar dan Pembelajaran,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2011) Hal. 9
[5] Mardiayu, dkk, 2014, Pengaruh Penggunaan Active Knowledge Sharing terhadap Hasil Belajar Biologi Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri Kebakkramat Tahun Pelajaran 2012/2013, BIO-PEDAGOGI, 3 (1) : 2
[6] Agus suprijono, Cooperatif  Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) Hal.13
[7] Sardiman, Interaksi &Motivasi,....Hal. 77.
[8] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,.... Hal. 166
[9] Sardiman, Interaksi & Motivasi,... Hal. 92
[10] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,.... Hal. 167
[11] Sardiman, Interaksi & Motivasi,... Hal. 93
[12] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,.... Hal. 168
[13] Sardiman, Interaksi & Motivasi,..... Hal. 41.
[14] Sardiman,  Interaksi & Motivasi,... Hal. 44.

Rizki, S.Si., M.P. dan Aulia Victorina
loading...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Kesehatan Anda

loading...

Rizkibio Web Learning

Entri Populer